TRENDPURWAKARTA.ID – Nasib kurang beruntung harus dialami para petani di Kampung Tegal Tanjung, Kelurahan Karangpawitan, Kecamatan Karawang Barat. Padi yang baru saja ditanam sekitar 10 hari kini terancam gagal tumbuh akibat kekeringan. Ironisnya, biang kerok kelangkaan air ini bukan karena kemarau semata, melainkan saluran irigasi tersier di belakang permukiman warga yang mendadak tak berfungsi.
Pantauan di lapangan menunjukkan, fisik turap batu belah pada saluran tersier tersebut memang sudah berdiri. Namun, fungsinya nol besar. Saluran mampet, mendangkal, dan sama sekali tak mengalirkan air. Alhasil, para petani terpaksa menyedot air dari saluran pembuang Kumejing, Kepuh, menggunakan mesin pompa setiap hari demi menyambung nyawa tanaman mereka.
"Saluran tersier yang ada sudah mampet dan kering. Padahal turap batu belah sudah dipasang, tapi anehnya air tetap tidak mengalir," keluh Ajo, salah seorang petani setempat saat ditemui di sela-sela kunjungan ke Kelompok Wanita Tani (KWT) Campernik, Jumat (28/8).
Kondisi ini tak cuma mencekik petani kecil. Ajo membeberkan, sawah milik Ketua Gapoktan Kelurahan Karangpawitan, H. Damo, juga bernasib sama. Keduanya—dan puluhan petani lain—harus memutar otak dan merogoh kocek lebih dalam untuk membeli bahan bakar minyak (BBM) mesin pompa saban hari. Biaya operasional pun membengkak sebelum masa panen tiba.
Melihat kondisi yang kian mendesak, para petani mendesak Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan (DPKPP) Kabupaten Karawang untuk tidak sekadar duduk di balik meja. Pemerintah daerah diminta segera turun ke lokasi meninjau langsung dan memberikan solusi konkret atas mampetnya infrastruktur irigasi tersebut.
Jangan sampai proyek turap yang memakan anggaran hanya berakhir jadi pajangan, sementara petani dibiarkan menanggung rugi sendirian.
---
Reporter: Hamid (Karawang)
Editor: Ahas

0 Komentar