LIPUTAN KHUSUS
TRENDPURWAKARTA.ID, KARAWANG — Setiap kali kita menikmati sesuap nasi hangat hari ini, ada peluh, doa, dan jemari legam yang bekerja tanpa bising di balik hijau dan emasnya pematang sawah.
Kamis, 24 September 2026, Indonesia kembali memperingati Hari Tani Nasional. Momen bersejarah yang berakar dari pengesahan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (UUPA 1960) serta dikukuhkan melalui Keppres No. 169 Tahun 1963.
Namun, di luar jajaran seremonial dan unggahan ucapan selamat di media sosial, peringatan ini membawa refleksi mendalam: sejauh mana kita telah memuliakan mereka yang menopang piring pangan bangsa ini?
Memaknai UUPA 1960: Bukan Sekadar Angka Produksi
UUPA 1960 lahir membawa cita-cita besar: mengikis ketimpangan kepemilikan lahan dan memberikan keadilan sosial bagi para pengolah tanah. Di tahun 2026, kedaulatan pangan tidak lagi cukup diukur dari seberapa megah angka panen raya yang dipamerkan di atas panggung.
Kedaulatan yang sejati berawal dari rasa aman para petani atas tanah yang mereka garap, perlindungan dari alih fungsi lahan, hingga ketangguhan menghadapi krisis regenerasi petani muda dan perubahan iklim.
Memasuki wilayah Kabupaten Karawang—wilayah yang kerap dijuluki sebagai "Lumbung Pangan Nasional"—harapan dan tantangan tersebut terasa makin nyata. Redaksi TRENDPURWAKARTA.ID berkesempatan melakukan wawancara khusus bersama Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (DPKPP) Kabupaten Karawang, Drs. Rochman, M.Si., untuk membedah bagaimana pemerintah daerah menjawab tantangan zaman ini.
Wawancara Khusus: "Petani Hebat, Pertanian Kuat, Indonesia Berdaulat"
Redaksi: Pak Kadis, Peringatan Hari Tani Nasional 2026 mengusung refleksi mendalam mengenai kedaulatan pangan, kepastian tanah garapan, hingga tantangan regenerasi petani. Bagaimana DPKPP Kabupaten Karawang memandang pesan ini?
Drs. Rochman, M.Si.:
"Bagi kami di Karawang, pesan itu terasa sangat dekat dan nyata. Ada ungkapan yang sangat menyentuh hati saya: 'Dari tanah yang dirawat, tumbuh harapan. Dari tangan yang bekerja, lahir kehidupan. Dari perjuangan para petani, negeri ini tetap berdiri.'
"Kalimat itu bukan sekadar puitis, melainkan realitas sehari-hari di Karawang. Keringat para petani di tanah ini adalah penopang piring nasi jutaan rakyat Indonesia. Oleh karena itu, menjaga lahan pertanian berkelanjutan agar tidak tergerus alih fungsi lahan adalah harga mati untuk mempertahankan kedaulatan pangan kita."
Redaksi: Menghadapi era modernisasi dan ketidakpastian iklim, langkah konkret apa yang disiapkan DPKPP agar petani tidak berjuang sendirian?
Drs. Rochman, M.Si.:
"Hari ini kita tidak hanya merayakan mereka yang menanam padi, tetapi mereka yang menanam masa depan. Kami di Pemkab Karawang terus berupaya memfasilitasi petani melalui modernisasi alat dan mesin pertanian (alsintan), percepatan digitalisasi sektor pertanian, penyediaan benih unggul, hingga menjamin kemudahan akses pupuk dan asuransi pertanian.
Namun, teknologi saja tidak cukup. Kunci dari slogan 'Petani hebat, pertanian kuat, Indonesia berdaulat' adalah kesejahteraan. Target utama kami bukan sekadar mendongkrak tonase panen, melainkan memastikan Nilai Tukar Petani (NTP) terus naik, sehingga usaha tani memberi kepastian ekonomi yang layak bagi dapur rumah tangga mereka."
Cermin untuk Masa Depan Pangan Bangsa
Hari Tani Nasional 24 September 2026 hendaknya tidak menjadi rutinitas tahunan yang berlalu tanpa bekas. Petani adalah benteng terakhir pertahanan nasional yang sebenarnya. Ketika tanah garapan mereka terancam dan kesejahteraan mereka terabaikan, yang dipertaruhkan di masa depan adalah piring nasi kita sendiri.
Dari Karawang untuk Indonesia, pesan di Hari Tani Nasional tahun ini terdengar lugas dan penuh harapan: Mari jaga tanahnya, muliakan petaninya, dan perkuat ketahanan pangannya.
Selamat Hari Tani Nasional 2026. Terima kasih, para petani Indonesia!
(Ahas/Red).

0 Komentar