Disorot Aktivis Karawang: Atap Plafon SMPN 2 Tirtamulya Bolong-bolong, Dana Pemeliharaan Kemana?

Pemerhati Pendidikan Kabupaten Karawang, Kang Arief Aryady.


TRENDPURWAKARTA.ID, KARAWANG – Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) saban tahun mengalir deras, namun mengapa visual fasilitas pendidikan di lapangan kerap menampilkan pemandangan yang nestapa? Pertanyaan mendasar ini kembali mengemuka saat potret kerusakan fisik menyapa siapa saja yang melangkah ke SMPN 2 Tirtamulya, Kabupaten Karawang.


Sekolah yang berlokasi di Jalan Raya Bojongsari, Tirtamulya ini di atas kertas memegang predikat mentereng: Berakreditasi A. Sekolah ini menampung 535 siswa-siswi yang terbagi ke dalam 20 rombongan belajar (rombel). Angka yang tak sedikit, sekaligus menandakan besarnya alokasi dana pemeliharaan sarana dan prasarana yang mengucur dari kas negara setiap tahunnya.


Namun, fakta di lapangan justru memicu kernyit dahi. Atap plafon yang bolong-bolong dan genteng yang terkesan abai dari perawatan menjadi pemandangan kontras dengan status akreditasi unggulan yang disandang.



Kondisi tersebut memancing reaktifitas Pemerhati Pendidikan Kabupaten Karawang, Kang Arief Aryady. Saat meninjau langsung lokasi, ia tak sanggup menyembunyikan rasa geramnya melihat anggaran yang diserap tidak berbanding lurus dengan realitas fisik bangunan.


"Setiap tahun Dana Pemeliharaan yang bersumber dari dana BOS selalu cair dan habis, tetapi kenapa masih ada sekolah yang ditemukan plafon atap bolong-bolong seperti ini?" cetus Kang Arief dengan nada kritis.



Sentilan satir Kang Arief menyasar pada transparansi tata kelola anggaran. Dalam regulasi pengelolaan Dana BOS, komponen pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah merupakan alokasi wajib untuk menjamin kenyamanan serta keselamatan kegiatan belajar mengajar (KBM). Ketika anggaran rutin terserap habis namun material fisik sekolah tetap terbengkalai, wajar jika publik mempertanyakan: ke mana sebenarnya alokasi dana tersebut menguap?


Niat mengonfirmasi dan meminta klarifikasi resmi dari pihak pengelola sekolah pun berujung pada benteng kebuntuan. Saat awak media bersama Kang Arief menyambangi lokasi, Kepala SMPN 2 Tirtamulya, Drs. H. Nazmudin, tidak berada di tempat.


"Bapak kepala sekolah sedang mengurus cucunya ke rumah sakit," ujar petugas keamanan (centeng) yang berjaga di sekolah tersebut.


Upaya mencari perwakilan manajemen sekolah demi azas keberimbangan berita (cover both sides) juga menemui jalan buntu. Komposisi kepemimpinan sekolah seolah 'senyap' secara bersamaan.


"Wakil kepala sekolah dan Humas sekolah, semuanya sedang ada tugas luar," tambah petugas jaga tersebut singkat.


Kosongnya unsur pimpinan sekolah saat jam kerja serta minimnya keterbukaan terkait penggunaan dana publik ini kian menebal misteri. Penyelenggaraan pendidikan negeri diikat oleh undang-undang transparansi informasi publik serta akuntabilitas keuangan negara. Kerusakan fasilitas yang dibiarkan bukan sekadar persoalan estetika bangunan, melainkan menyangkut hak dasar 535 siswa atas sarana belajar yang layak dan aman.


Hingga berita ini diturunkan, redaksi masih berupaya membuka ruang konfirmasi kepada Kepala SMPN 2 Tirtamulya maupun Dinas Pendidikan Kabupaten Karawang untuk memberikan penjelasan resmi terkait realisasi anggaran pemeliharaan di sekolah tersebut.  (Ahas)


0 Komentar